Lelaki Dua Surga

dakwatuna.com – “Sesungguhnya putriku ini adalah amanah di pundakku dan aku berusaha mencari untuk kebaikan urusannya pada apa yang telah aku perbuat.” Atas alasan itulah Said Bin Musayyib menolak pinangan Amirul Mukminin dan menikahkan putrinya dengan orang kalangan biasa dari kaum muslimin.


Mendung duka belum tersaput dari wajah lelaki yang baru kehilangan orang yang paling dikasihi. Dia tidak tahu bahwa ternyata malam itu adalah malam terakhir dirinya menjumpai istri di rumahnya yang sederhana.. Terbayang kembali wajah istrinya, yang demikian baik kepadanya. Dialah yang senantiasa menghibur kesedihannya. Ikut memahami dan merasakan kegalauannya. Istri yang selalu mendoakannya agar dirinya mendapatkan hidayah Allah. Istri yang senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menyemangati untuk selalu mencari ridha Allah.


Koalisi

Teman saya, single mother dengan seorang anak, tengah sibuk mencari jodoh. Saat teman-temannya berniat memperkenalkannya pada seorang 'duren' (duda keren) yang punya dua orang anak, serta-merta ia menolak. “Saya bawa satu anak, dia bawa dua anak, waaah ribet”, begitu komentarnya. Loh, baru ‘koalisi’ antara 5 orang begitu saja sudah merasa ribet. Sementara, sekarang ini kita lihat partai-partai politik, bisa dengan mudahnya menyeberangi visi, misi, bahkan dikhawatirkan mengingkari ideologinya sendiri, untuk memenangkan 'jumlah kursi'.

Menyaksikan koalisi partai-partai Indonesia, mungkin rasanya sama seperti melihat produsen mobil Fiat, Italia, yang berencana mengakuisisi Chrysler dan Operasional General Motor (GM) di Eropa, sementara GM dan Chrysler juga tengah dalam pembicaraan untuk mengawinkan dua nama besar dalam industri otomotif Amerika yang tengah mengalami kesulitan keuangan itu. Sulit rasanya membayangkan Fiat, manajemen perusahaan yang yang berorientasi efisiensi dengan produksi terpopuler Fiat Cinque Cento, mobil keluarga mungil berkekuatan ‘hanya’ 500cc, mengelola perusahaan yang memproduksi mobil ’tangguh’ dan ‘boros’, seperti Impala, Cadillac dan Chevrolet Nova. Tentunya ‘koalisi’ ini perlu betul-betul dicermati, dianalisa, dibuatkan action plan dengan sangat cerdas dan teliti, agar saling menguntungkan dan saling melengkapi. Pihak yang tadinya berprinsip ‘either-or’ menjadi ‘both-and’. Pastilah kedua belah pihak sudah mempertimbangkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan: Apakah mereka akan berkooperasi atau bersaing? Apakah akan berhemat atau melakukan diferensiasi? Apakah akan membunuh beberapa produk? Produk mana yang akan ‘dikalahkan”?Apakah kuat melakukan “management without tradeoffs”? 

Berapa gaji untuk para ibu?

“Berapa gaji ibumu sebulan?” begitu tanya kawan Dina (11 thn ) di sms padanya, dan Dina berlari padaku…”berapa ma..? hmm... dari ayah sekian..dari kantor sekian...” jawabku tersenyum.

“Berapa gaji untuk para ibu..?“ demikian pertanyaan seorang kawanku di facebook, dia seorang direktur juga merangkap sebagi seorang ibu, supir dan juga tukang masak demikian urainya dalam sebuah notes “housewife” di facebooknya.

Muhammad Ali Bersyahadat di Atas Ring Tinju

Islam membawanya pada kedamaian dan kepercayaan diri yang tinggi.
 

Bagi penggemar tinju dunia, tentu tak asing dengan nama Muhammad Ali, mantan juara dunia kelas berat tiga kali. Di masanya, Ali terkenal sebagai seorang petinju yang sangat ditakuti oleh lawan-lawannya. Dan, ia pun dijuluki sebagai The Greatest (terbesar).
Sebab, dia mampu menaklukkan peitnju-petinju terbesar di zamannya, seperti George Foreman, Sony Liston, Joe Frazier, dan lainnya. Bahkan, pertarungannya melawan Foreman serta Joe Frazier menjadi pertarungan terbaik sepanjang abad ke-20. Dan, Ali pun juga dinobatkan sebagai seorang petinju terbesar di abad 20.
Nama sebagai 'Yang Terbesar' ini disematkan padanya sejak ia mengalahkan para petinju yang juga memiliki nama besar. Karena kemampuannya mengalahkan para petinju itu, ia pun menggunakan nama 'Yang Terbesar' (The Greatest) tersebut.
Ali juga dikenal sebagai petinju terbaik pada masanya. Ia pernah menjadi sebuah mesin pemukul yang sangat hebat hingga menimbulkan rasa takut pada lawannya. Sebelum berganti nama menjadi Muhammad Ali, ia bernama Cassius Marcellus Clay Junior. Hingga kini, namanya dianggap sebagai petinju terbaik yang pernah dimiliki publik Amerika Serikat dan orang kulit hitam.
Kesuksesannya merebut gelar juara dunia menempatkannya pada deretan atlet terbesar abad ke-20. Bahkan, gelar itu mengubah status pandangan masyarakat terhadap orang dan atlet kulit hitam. Keberhasilannya itu pun yang akhirnya mengangkat martabat para atlet kulit hitam ke tempat yang tinggi dengan penghormatan dan penerimaan yang baik dari masyarakat kulit putih dan hitam.